Cerita Perubahan

Berlatih Jadi Pemimpin Perempuan di PEKKA Kalimantan Barat

PAGI itu, sekelompok perempuan di Sungai Ambangah, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, sibuk menggambar. Mereka tengah menggambar wajah masing-masing; tak soal apakah gambar mereka menyerupai aslinya atau tidak. Ibu Nora, misalnya, menggambar wajah seorang perempuan dengan kerudung menaungi kepala dan bibir berwarna merah menyala.

“Saya waktu muda bibirnya merah seperti itu,” ia menjelaskan, disambut tawa dari perempuan-perempuan lainnya.

Perempuan-perempuan ini bukan tengah mengikuti kursus menggambar, melainkan mereka sedang mengikuti rangkaian pelatihan kepemimpinan perempuan PEKKA tingkat provinsi yang berlangsung selama 3 hari.

“Kami meminta mereka menggambar wajah kanan dan kiri. Wajah bagian kanan diberi keterangan mengenai hal-hal positif tentang diri mereka, sedangkan wajah bagian kiri diberi keterangan hal-hal negatif. Kemudian mereka harus presentasi dan menunjukkan saya orangnya seperti ini, kekurangannya ini, kelebihannya ini,” Kak Kholilah, salah satu kader PEKKA di Kalimantan Barat yang memandu pelatihan hari itu, menjelaskan.

Pelatihan kepemimpinan perempuan hari itu diikuti sekitar 28 orang perempuan yang terpilih dari berbagai daerah di Kalimantan Barat, mulai dari Bengkayang, Singkawang, Pinyuh, Rasau Jaya, Kakap, Teluk Pakedai, Kuala Mandor, dan Sungai Raya.

“Pertama-tama, biasanya kami tekankan dulu kepada mereka, bahwa mereka semua adalah pemimpin. Misalnya, ketika ia berperan sebagai orang tua atau ketua kelompok pengajian, adakah proses memimpin di situ? Ada, kan? Kemudian, kami diskusikan juga dengan mereka apa saja kewajiban mereka sebagai pemimpin berdasarkan peran mereka. Apa kewajiban mereka sebagai anak terhadap orangtua, apa kewajiban mereka sebagai pemimpin kelompok terhadap anggota. Di sini mereka sadar akan fungsi mereka, dan tahu tanggung-jawab mereka sebagai pemimpin,” Kak Kholilah menjelaskan.

Dalam pelatihan kepemimpinan ini, para perempuan pun disadarkan akan pentingnya mengatur prioritas dalam kehidupan sehari-hari mereka. Di dinding, mereka menempelkan kertas besar bertuliskan kuadran-kuadran ‘hal penting yang selalu dilakukan’, ‘hal penting yang tidak dilakukan’, ‘hal tidak penting yang tidak dilakukan’, juga ‘hal tidak penting yang selalu dilakukan’. Untuk yang terakhir itu, kebanyakan mengaku senang bergosip dengan tetangga dan menonton telenovela. Meskipun kegiatan ini tidak penting, mereka akui bahwa mereka justru selalu melakukannya.

“Ini juga untuk mengetahui bahwa ada hal-hal penting yang justru mereka abaikan untuk melakukan hal yang tidak penting. Ini kan tentang mengatur prioritas,” ujar Kak Kholilah. “Mereka jadi bisa tahu, apa hal penting yang jadi kewajiban mereka. Jika mereka ketua kelompok, misalnya, mereka penting untuk rajin datang ke rumah anggota.”

Pelatihan kepemimpinan perempuan PEKKA hari itu memang bukan pelatihan pasif di mana peserta hanya mendengarkan—melainkan pelatihan aktif di mana peserta mengerjakan tugas, menggambar, berdiskusi, bahkan berdebat dan melakukan berbagai kegiatan simulasi. Salah satunya adalah berlatih kemampuan dalam bernegosiasi dan mengambil keputusan.

Sebuah skenario pun disusun. Kasus terjadi menjelang Hari Raya Idul Adha. Hanya ada 1 kapal yang akan berangkat ke pulau, dan kapal sudah penuh sehingga hanya bisa ditumpangi 1 orang lagi saja. Namun ada 3 orang lagi yang hendak berangkat ke pulau hari itu: Pak Khatib, Pak Camat, dan Pak Pekerja Sosial.

Pak Khatib mengaku kedatangannya ke pulau sangat penting, karena ia harus memimpin doa dan memberikan ceramah. Pak Camat juga mengaku penting untuk pergi ke pulau, karena ia adalah panitia penyembelihan kurban. Pak Pekerja Sosial juga mengaku penting baginya untuk naik kapal dan berangkat ke pulau karena ia membawa bantuan bagi anak-anak yatim. Masing-masing harus bernegosiasi dengan pemilik kapal agar bisa berangkat ke pulau—dan pemilik kapal pun harus mengambil keputusan siapa yang akan diijinkan naik ke kapal.

Skenario ini pun dimainkan oleh kelompok-kelompok perempuan yang mengikuti pelatihan hari itu; masing-masing harus menjelaskan posisi dan kewajiban mereka, serta meyakinkan pemilik kapal.

“Akhirnya kan kita simpulkan bahwa yang harus pergi Pak Khatib. Karena kalau penyembelihan kurban itu kan bisa dilakukan pada hari kedua, tidak harus hari pertama, jadi Pak Camat bisa pergi keesokan harinya. Pak Camat bisa menitip pesan pada Pak Khatib bahwa penyembelihan kurban akan dilakukan besok. Pak Pekerja Sosial juga bisa menitipkan bantuan anak yatimnya kepada Pak Khatib, dengan memberikan daftar yang harus diisi Pak Khatib sebagai laporan penerimaan bantuan. Pak Khatib memang tetap harus pergi karena tidak ada yang bisa menggantikannya memimpin doa dan memberikan ceramah di pulau,” ujar Kak Kholilah, setelah sebelumnya para peserta juga saling berdebat dan memaksakan bahwa dirinyalah sebagai Pak Camat atau Pak Pekerja Sosial yang sesungguhnya paling penting untuk berangkat ke pulau.

Pelatihan bernegosiasi dan kemampuan untuk mengambil keputusan yang bijak ini terkait dengan pelatihan mengenai jenis-jenis kepemimpinan, mulai dari yang diktator atau egois, yang pasif atau plin-plan, sampai yang asertif atau tegas.

“Intinya kita coba melatih peserta berpikir menang-menang. Dari negosiasi, lalu kita ajarkan mereka untuk bersinergi,” Kak Kholilah menjelaskan. “Sehari-hari, proses ini harus mereka lalui di masyarakat, misalnya di kelompok, bagaimana jika anggota ada yang mau pinjam uang, lalu ketika tidak diberi merajuk dan bilang mau berhenti saja. Kan ada juga proses negosiasi di situ.”

Pelatihan kepemimpinan perempuan PEKKA ini kini juga sudah bisa ditangani langsung oleh pelatih dari PEKKA dan kader-kader mereka. “Dulu kan misalnya hanya saya dan Kak Magdalena yang mengajar, tapi sekarang pelatih sudah bisa tandem dengan kader. Sebelum pelatihan kader sudah diajari untuk membawakan materi, jadi hari ini Dani (kader PEKKA) sudah bisa mengajar. Mereka sudah percaya diri sekarang. Mereka bilang, mereka lebih percaya diri ketika bicara langsung di depan ibu-ibu ini daripada ketika harus latihan membawakan materi di depan kami-kami,”Kak Kholilah tertawa. (***)