Cerita

‘Aisyiyah Pangkep Gandeng Dinas Kesehatan Deteksi Dini Kanker Serviks dan Payudara

Salah satu isu dari Program MAMPU yang dilaksanakan oleh ‘Aisyiyah di 14 Kabupaten di 4 Provinsi (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Kalimatan) adalah Kesehatan Reproduksi, yang mencakup kanker serviks, Jaminan Keamanan Nasional (JKN), Kanker Payudara, Asi Ekslusif dan Keluarga Berencana. Pelaksanaan dari program ini telah dimulai sejak tahun 2014 yang lalu.

Khususnya untuk kanker serviks dan kanker payudara, kondisinya sudah sangat mendesak dan harus mendapatkan penanganan serius, khususnya dalam tindakan pencegahan. Kanker tersebut menjadi penyebab dan pembunuh pertama dan kedua bagi kaum perempuan di dunia, termasuk di Indonesia. Kanker serviks dan kaknker payudara dapat menyerang kaum perempuan, baik yang telah menikah maupun yang belum menikah (khususnya perempuan yang telah memasuki usia produktif secara seksual).

Kanker serviks adalah kanker yang muncul pada leher rahim wanita. Leher rahim sendiri berfungsi sebagai pintu masuk menuju rahim dari vagina. Semua wanita dari berbagai usia berisiko menderita kanker serviks. Tapi, penyakit ini cenderung menghinggapi wanita yang aktif secara seksual. Sedangkan Kanker Payudara adalah kanker yang terbentuk dari lemak, jaringan kuat, dan ribuan lobulus (kelenjar kecil penghasil air susu).

Saat seorang wanita melahirkan, Air Susu Ibu (ASI) akan dikirim ke puting melalui saluran kecil saat menyusui. Namun, sel-sel dalam tubuh perempuan biasanya tumbuh dan berkembang biak secara teratur. Sel-sel baru hanya terbentuk saat dibutuhkan, tetapi proses dalam tubuh pengidap kanker akan berbeda karena proses tersebut akan berjalan secara tidak wajar sehingga pertumbuhan dan perkembangbiakan sel-sel menjadi tidak terkendali. Gejala awal kanker payudara adalah benjolan atau penebalan pada jaringan kulit payudara, meski sebagian besar benjolan belum tentu kanker payudara sehingga penting bagi perempuan usia produktif melakukan pemeriksaan dini.

Data WHO menunjukkan bahwa penderita kanker serviks jumlahnya sangat tinggi. Setiap tahun setidaknya kurang dari 15.000 kasus kanker serviks terjadi di Indonesia. Jumlah itu tidak berlebihan karena tiap hari di Indonesia, dari 40 wanita yang terdiagnosa menderita kanker serviks, 20 di antaranya meninggal. Tingginya kasus kanker serviks di Indonesia membuat WHO menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah penderita kanker serviks terbanyak di dunia.

Sementara kanker payudara merupakan penyakit dengan kasus terbanyak kedua setelah kanker serviks. Penderita kanker payudara di Indonesia pada tahun 2004 (sebagaimana dikutip dari Profil Kesehatan Indonesia tahun 2008) sebanyak 5.207 kasus. Sedangkan pada 2005, jumlah penderita kanker payudara meningkat menjadi 7.850 kasus. Tahun 2006, penderita kanker payudara meningkat menjadi 8.328 kasus dan pada tahun 2007 jumlah tersebut tidak jauh berbeda meski sedikit mengalami penurunan yakni 8.277 kasus. Namun, insiden kanker di Indonesia masih belum diketahui secara pasti karena belum ada registrasi kanker berbasis populasi yang dilaksanakan.

Berdasarkan data Kemenkes RI tahun 2015 melalui estimasi Globocan International Agency for Research on Cancer (IARC), kanker payudara adalah kanker dengan presentase kasus baru tertinggi (43,3%) dan presentase kematian tertinggi (12,9%) pada perempuan di dunia.

Sedangkan berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, prevalensi kanker payudara di Indonesia mencapai 0,5 per 1000 perempuan. Data lain datang pula dari Sistem Informasi Rumah Sakit tahun 2010. Disebutkan bahwa kanker payudara adalah jenis kanker tertinggi pada pasien rawat jalan maupun rawat inap yang mencapai 12.014 orang (28,7%).

Berdasarkan data Subdit Kanker Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PPTM) Kemenkes RI, jumlah perempuan seluruh Indonesia umur 30-50 tahun adalah 36.761.000. Sejak tahun 2007-2013 deteksi dini yang telah dilakukan oleh perempuan sebanyak 644.951 orang (1,75%) dengan penemuan suspek benjolan (tumor) payudara 1.682 orang (2,6 per 1000 penduduk).

Berdasarkan kenyataan tentang data kanker serviks dan payudara inilah, ‘Aisyiyah kemudian menggandeng Dinas Kesehatan Kabupaten Pangkajene Kepulauan – Sulawesi Selatan untuk mendorong seluruh Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM) melalui bidan terlatihnya untuk turun langsung ke komunitas melakukan penyuluhan, sosialisasi dan promosi preventif. Aktivitas ini ditujukan kepada ibu-ibu usia produktif (Pasangan Usia Subur – PUS dan juga Wanita Usia Subur – WUS) untuk menjaga kesehatan reproduksi sebagai aset berharga bagi kaum perempuan.

Tujuan kegiatan ini tentunya untuk mendekatkan informasi seputar pentingnya kesehatan reproduksi bagi kaum perempuan agar dapat terhindar dari bahaya kanker serviks melalui tes IVA atau papsmear serta mencegah kanker payudara melalui pemeriksaan payudara secara klinis (Sadarnis).

Selama ini informasi seputar kesehatan perempuan dapat ditemukan di berbagai Unit Layanan Kesehatan seperti Polindes, Poskesdes, Pustu, Puskesmas hingga Rumah Sakit Umum Daerah di Kabupaten baik masalah kehamilan, melahirkan, serta menyusui. Akan tetapi informasi untuk kanker serviks dan payudara masih sangat minim.

Dengan hadirnya Program MAMPU melalui ‘Aisyiyah, layanan serta akses informasi seputar kesehatan reproduksi tentang bahaya kanker ini dengan mudah didapatkan dengan cara menghadirkan para bidan secara langsung di desa atau kelurahan sasaran program, sekaligus menjadi kesempatan bagi puluhan ibu-ibu yang tergabung di komunitas ini dengan para bidan yang ingin menanyakan seputar kesehatannya dengan berkonsultasi secara intens tanpa rasa malu atau sungkan lagi.

Salah satu Bidan Puskemas Minasatene yang selama ini aktif turun ke komunitas, Hendryani Syam, didaulat sebagai Bidan Motivator. Hendryani membina 5 komunitas Balai Sakinah ‘Aisyiyah di Kelurahan Biraeng, tepatnya di 5 titik perkampungan seperti Griya Citra Mas, Penas, Kampung Botto Tajjoro, Kampung Bonto Puca, dan Kampung Belae.

“Sejak bergabung melalui kegiatan pemberdayaan perempuan yang dijalankan oleh ‘Aisyiyah Pangkep, saya mendapatkan banyak pengalaman yang membuat saya semakin mengenal banyak karakter perempuan binaan. Saya mendengar serta memahami lebih dekat masalah kesehatan yang sering dialami oleh para ibu-ibu di komunitas, khususnya masalah kesehatan reproduksi, baik itu bagaimana memberikan ASI Ekslusif, menggunakan alat kontrasepsi KB yang baik, penyebab kanker serviks dan payudara, serta JKN atau BPJS yang masih begitu sulit untuk diakses bagi sebagian anggota BSA”, ujar Bidan Hendryani.

Tes IVA, Papsmear dan Sadarnis adalah upaya untuk mencegah kanker serviks dan payudara. Hal ini menjadi sesuatu yang baru bagi sebagian besar anggota komunitas. Terlebih saat mengampanyekan pentingnya pemeriksaan dini kedua jenis kanker ini, ‘Aisyiyah mengalami banyak tantangan terutama di tahun pertama program berjalan. Namun kemudian, akhirnya mereka sadar dan tergerak sendiri untuk melakukan pemeriksaan IVA melalui dukungan Program MAMPU.

Melihat animo para anggota komunitas yang cukup tinggi, maka pihak Puskesmas Minasatene pun mulai menyisihkan anggaran tetap untuk pengadaan alat kesehatan pemeriksaan IVA dan Papsmear ini dan memberlakukan pelayanan reguler untuk pemeriksaan di Puskesmas yang masih berjalan hingga saat ini.

Ada pengalaman lain yang dialami Bidan Indri. Saat itu, Bidan Indri memeriksa 2 orang anggota di komunitas binaan Program MAMPU di Kelurahan Biraeng. Mereka terdeteksi mengidap Kanker Serviks melalui tes IVA. Bersama sejumlah pengurus ‘Aisyiyah di Kabupaten, Bidan Indri menindaklanjuti pengobatan kedua pasien tersebut ke RSUD Pangkep. Namun dikarenakan keterbatasan sarana di Pangkep, akhirnya keputusan untuk melanjutkan pengobatan di Kota Makassar adalah pilihan terbaik. Proses pengobatan yang didukung oleh penanganan dokter ahli ini, akhirnya berbuah keberhasilan. Pasien ini dinyatakan sembuh oleh pihak dokter.

Akan tetapi, ada kejadian menyedihkan di kelurahan Bonto Langkasa. Salah satu anggota komunitas BSA meninggal karena kanker ovarium yang telah memasuki stadium akhir karena keterlambatan pemeriksaan.

***

Sejumlah bidan, kader dan anggota komunitas binaan ‘Aisyiyah di Kabupaten Pangkep melakukan Focus Group Discussion dan dialog rutin terkait kesehatan reproduksi. Dari diskusi tersebut, didapati fakta lapangan bahwa kedua kanker ini telah menggerogoti banyak nyawa perempuan di Pangkep, karena terkendala berbagai faktor dalam penanganannya. Sebagian besar penderitanya terlambat melakukan pemeriksaan, sehingga mereka merasa ketakutan untuk melakukan pengobatan lanjutan. Selain itu, faktor ketidakmampuan biaya dan tak adanya pendampingan membuat mereka pada akhirnya pasrah pada keadaan.

Melihat kenyataan ini, ‘Aisyiyah terus bergerak mengadvokasi dan mendorong pemangku kepentingan agar upaya pencegahan kanker serviks dan payudara ini menjadi prioritas pendampingan dan menjadi perhatian.

Melalui forum dialog dan koordinasi secara intens, ‘Aisyiyah Pangkep dan Dinas Kesehatan Kabupaten Pangkep didukung oleh MAMPU, melakukan serangkaian kegiatan kolektif, seperti peringatan hari Kanker Payudara Sedunia yang dilakukan secara akbar pada Oktober 2015 lalu. Kegiatan kampanye cegah kanker serviks dan payudara ini mengjangkau ribuan peserta dari berbagai kalangan. Pelaksanaan ini menjadi bukti dukungan serta perhatian Dinkes akan isu Kesehatan Reproduksi yang akan terus digalakkan bersama ‘Aisyiyah.

Setelah itu, ‘Aisyiyah mendorong agar Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pangkep mengeluarkan kebijakan pengadaan pemeriksaan secara reguler di Unit Layanan Kesehatan terdekat. Kebijakan ini telah direalisasikan sejak tahun 2015 yang lalu, dan ‘Aisyiyah juga mendorong Dinkes mengeluarkan Surat Edaran tahun 2016 untuk berkomitmen melakukan upaya peningkatan layanan kesehatan reproduksi, khususnya upaya pencegahan kedua jenis kanker paling mematikan bagi kaum perempuan ini.

Surat Edaran tersebut berlaku tak hanya di 3 Kecamatan sasaran Program MAMPU (Pangkajene, Bungoro dan Minasatene), tetapi juga seluruh Pusat Kesehatan Masyarakat di Pangkep guna mempermudah akses informasi dan pemeriksaan IVA atau Papsmear bagi yang membutuhkan penanganan. Selain itu, pemeriksaan payudara secara klinis atau Sadarnis pun sudah harus mulai disosialisasikan dan dilakukan secara aktif di seluruh unit layanan kesehatan agar jumlah perempuan yang mengidap kanker serviks maupun kanker payudara tidak bertambah lagi di Kabupaten Pangkep.

Dilaporkan oleh: Nhany Rachman (‘Aisyiyah)