Pengalaman Ikuti Tes IVA Kanker Serviks dari ‘Aisyiyah

“Saya baru pertama kali tahu ada yang namanya Tes IVA untuk kanker serviks dari pertemuan ‘Aisyiyah,” ujar Nurul, salah satu anggota kelompok ‘Aisyiyah di Magelang.

 

Ia bertutur awalnya sering keputihan, lalu ia diminta bidan untuk Tes IVA. “Saya pun langsung mau ikut tes pas ditawarin ikut oleh bidan,” ujarnya dalam acara Tes IVA di Magelang, didukung oleh Program pada 27 Februari 2016.

 

“Setelah periksa tadi, saya dapat hasilnya positif. Sekarang saya menunggu kabar dari ibu-ibu ‘Aisyiyah, selanjutnya harus bagaimana,” tutupnya.

 

Dilaporkan oleh Mida Mardhiyah (‘Aisyiyah)

Berlatih Jadi Pemimpin Perempuan di PEKKA Kalimantan Barat

PAGI itu, sekelompok perempuan di Sungai Ambangah, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, sibuk menggambar. Mereka tengah menggambar wajah masing-masing; tak soal apakah gambar mereka menyerupai aslinya atau tidak. Ibu Nora, misalnya, menggambar wajah seorang perempuan dengan kerudung menaungi kepala dan bibir berwarna merah menyala.

“Saya waktu muda bibirnya merah seperti itu,” ia menjelaskan, disambut tawa dari perempuan-perempuan lainnya.

Perempuan-perempuan ini bukan tengah mengikuti kursus menggambar, melainkan mereka sedang mengikuti rangkaian pelatihan kepemimpinan perempuan PEKKA tingkat provinsi yang berlangsung selama 3 hari.

“Kami meminta mereka menggambar wajah kanan dan kiri. Wajah bagian kanan diberi keterangan mengenai hal-hal positif tentang diri mereka, sedangkan wajah bagian kiri diberi keterangan hal-hal negatif. Kemudian mereka harus presentasi dan menunjukkan saya orangnya seperti ini, kekurangannya ini, kelebihannya ini,” Kak Kholilah, salah satu kader PEKKA di Kalimantan Barat yang memandu pelatihan hari itu, menjelaskan.

Pelatihan kepemimpinan perempuan hari itu diikuti sekitar 28 orang perempuan yang terpilih dari berbagai daerah di Kalimantan Barat, mulai dari Bengkayang, Singkawang, Pinyuh, Rasau Jaya, Kakap, Teluk Pakedai, Kuala Mandor, dan Sungai Raya.

“Pertama-tama, biasanya kami tekankan dulu kepada mereka, bahwa mereka semua adalah pemimpin. Misalnya, ketika ia berperan sebagai orang tua atau ketua kelompok pengajian, adakah proses memimpin di situ? Ada, kan? Kemudian, kami diskusikan juga dengan mereka apa saja kewajiban mereka sebagai pemimpin berdasarkan peran mereka. Apa kewajiban mereka sebagai anak terhadap orangtua, apa kewajiban mereka sebagai pemimpin kelompok terhadap anggota. Di sini mereka sadar akan fungsi mereka, dan tahu tanggung-jawab mereka sebagai pemimpin,” Kak Kholilah menjelaskan.

Dalam pelatihan kepemimpinan ini, para perempuan pun disadarkan akan pentingnya mengatur prioritas dalam kehidupan sehari-hari mereka. Di dinding, mereka menempelkan kertas besar bertuliskan kuadran-kuadran ‘hal penting yang selalu dilakukan’, ‘hal penting yang tidak dilakukan’, ‘hal tidak penting yang tidak dilakukan’, juga ‘hal tidak penting yang selalu dilakukan’. Untuk yang terakhir itu, kebanyakan mengaku senang bergosip dengan tetangga dan menonton telenovela. Meskipun kegiatan ini tidak penting, mereka akui bahwa mereka justru selalu melakukannya.

“Ini juga untuk mengetahui bahwa ada hal-hal penting yang justru mereka abaikan untuk melakukan hal yang tidak penting. Ini kan tentang mengatur prioritas,” ujar Kak Kholilah. “Mereka jadi bisa tahu, apa hal penting yang jadi kewajiban mereka. Jika mereka ketua kelompok, misalnya, mereka penting untuk rajin datang ke rumah anggota.”

Pelatihan kepemimpinan perempuan PEKKA hari itu memang bukan pelatihan pasif di mana peserta hanya mendengarkan—melainkan pelatihan aktif di mana peserta mengerjakan tugas, menggambar, berdiskusi, bahkan berdebat dan melakukan berbagai kegiatan simulasi. Salah satunya adalah berlatih kemampuan dalam bernegosiasi dan mengambil keputusan.

Sebuah skenario pun disusun. Kasus terjadi menjelang Hari Raya Idul Adha. Hanya ada 1 kapal yang akan berangkat ke pulau, dan kapal sudah penuh sehingga hanya bisa ditumpangi 1 orang lagi saja. Namun ada 3 orang lagi yang hendak berangkat ke pulau hari itu: Pak Khatib, Pak Camat, dan Pak Pekerja Sosial.

Pak Khatib mengaku kedatangannya ke pulau sangat penting, karena ia harus memimpin doa dan memberikan ceramah. Pak Camat juga mengaku penting untuk pergi ke pulau, karena ia adalah panitia penyembelihan kurban. Pak Pekerja Sosial juga mengaku penting baginya untuk naik kapal dan berangkat ke pulau karena ia membawa bantuan bagi anak-anak yatim. Masing-masing harus bernegosiasi dengan pemilik kapal agar bisa berangkat ke pulau—dan pemilik kapal pun harus mengambil keputusan siapa yang akan diijinkan naik ke kapal.

Skenario ini pun dimainkan oleh kelompok-kelompok perempuan yang mengikuti pelatihan hari itu; masing-masing harus menjelaskan posisi dan kewajiban mereka, serta meyakinkan pemilik kapal.

“Akhirnya kan kita simpulkan bahwa yang harus pergi Pak Khatib. Karena kalau penyembelihan kurban itu kan bisa dilakukan pada hari kedua, tidak harus hari pertama, jadi Pak Camat bisa pergi keesokan harinya. Pak Camat bisa menitip pesan pada Pak Khatib bahwa penyembelihan kurban akan dilakukan besok. Pak Pekerja Sosial juga bisa menitipkan bantuan anak yatimnya kepada Pak Khatib, dengan memberikan daftar yang harus diisi Pak Khatib sebagai laporan penerimaan bantuan. Pak Khatib memang tetap harus pergi karena tidak ada yang bisa menggantikannya memimpin doa dan memberikan ceramah di pulau,” ujar Kak Kholilah, setelah sebelumnya para peserta juga saling berdebat dan memaksakan bahwa dirinyalah sebagai Pak Camat atau Pak Pekerja Sosial yang sesungguhnya paling penting untuk berangkat ke pulau.

Pelatihan bernegosiasi dan kemampuan untuk mengambil keputusan yang bijak ini terkait dengan pelatihan mengenai jenis-jenis kepemimpinan, mulai dari yang diktator atau egois, yang pasif atau plin-plan, sampai yang asertif atau tegas.

“Intinya kita coba melatih peserta berpikir menang-menang. Dari negosiasi, lalu kita ajarkan mereka untuk bersinergi,” Kak Kholilah menjelaskan. “Sehari-hari, proses ini harus mereka lalui di masyarakat, misalnya di kelompok, bagaimana jika anggota ada yang mau pinjam uang, lalu ketika tidak diberi merajuk dan bilang mau berhenti saja. Kan ada juga proses negosiasi di situ.”

Pelatihan kepemimpinan perempuan PEKKA ini kini juga sudah bisa ditangani langsung oleh pelatih dari PEKKA dan kader-kader mereka. “Dulu kan misalnya hanya saya dan Kak Magdalena yang mengajar, tapi sekarang pelatih sudah bisa tandem dengan kader. Sebelum pelatihan kader sudah diajari untuk membawakan materi, jadi hari ini Dani (kader PEKKA) sudah bisa mengajar. Mereka sudah percaya diri sekarang. Mereka bilang, mereka lebih percaya diri ketika bicara langsung di depan ibu-ibu ini daripada ketika harus latihan membawakan materi di depan kami-kami,”Kak Kholilah tertawa. (***)

Paham Kesehatan Reproduksi lewat Balai Sakinah ‘Aisyiyah

“Saya tidak pernah menonton televisi karena saya tidak memiliki televisi. Saya juga tidak membaca koran  Saya mendapatkan sebagian besar informasi saya dari menghadiri pertemuan ‘Aisyiyah di Balai Sakinah ‘ Aisyiyah,” ujar Nur, salah seorang perempuan usia subur yang merupakan peserta reguler di Balai Sakinah ‘Aisyiyah di Jawa Ngawi – Timur.

Ia berkata telah bergabung beberapa bulan yang lalu dan menghadiri pertemuan sekitar dua kali sebulan. Dari pertemuan itu ia tahu tentang kesehatan reproduksi. “Saya juga sudah melakukan *Tes IVA!” ujarnya

*Tes IVA: Tes Inspeksi Visual Asam untuk mendeteksi awal kanker atau kanker.

Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah Bantaeng : Aktif Pastikan Kesehatan Reproduksi jadi Prioritas di Musrenbang

“Di kelurahan, awalnya saya masuk dalam komisi sarana prasarana. Setelah ikut pelatihan kader dengan ‘Aisyiyah saya merasa isu kesehatan reproduksi menjadi penting untuk masuk dalam perencanaan. Namun, komisi sarana prasarana tidak bisa mengusulkan suatu isu, saya pun akhirnya pindah ke komisi sosial budaya agar bisa memasukan isu kesehatan reproduksi,” tutur Nurhayati, Pimpinan ranting ‘Aisyiyah Bantaeng

Awalnya, ia sempat kecewa karena ternyata program kesehatan reproduksi yang semula jadi program prioritas di Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kelurahan (Musrenbangkel) tiba-tiba tidak muncul di Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kecamatan (Musrenbangcam).

Namun bersama tim dari ‘Aisyiyah, ia terus mengawal lagi agar isu kesehatan reproduksi masuk dari mulai Musrenbangkel sampai akhirnya masuk di Musrenbangcam.

Saat menghadiri Pelatihan Motivator MAMPU-‘Aisyiyah, 12 Maret 2016, Nurhayati bercerita mendapatkan informasi terbaru dari ‘Aisyiyah, di kabupaten, usulan kesehatan reproduksi tidak masuk ke prioritas isu yang dibahas, hanya masuk lampiran. “Mengetahui hal ini, kami akan terus mengawal,” ujarnya.

Dilaporkan oleh Mida Mardhiyah (‘Aisyiyah)

Mantan Buruh Migran Suarakan Isu di Desa lewat Foto

“Sebelum PhotoVoice, saya tidak mengerti bagaimana cara mengambil foto dan menuliskan kutipan foto,” ujar Martina, mantan buruh migran dari Lembata binaan Migrant CARE yang telah mengikuti pelatihan PhotoVoice dengan didukung MAMPU.

“Namun sekarang saya bisa menggunakan foto-foto yang saya ambil untuk menunjukkan masalah-masalah yang ada di desa saya. Contohnya tentang kekurangan air bersih. Kami turun-temurun selalu tidak ada air bersih. Selalu kasih beli. Ada air, tetapi asin,” tuturnya.

Melalui PhotoVoice, para perempuan menggunakan foto hasil jepretan mereka sendiri untuk menyuarakan keprihatinan, kebutuhan atau keberhasilan mereka sebagai alumni buruh migran.

“Foto-foto yang kami ambil sudah kami tunjukkan ke kepala desa, wakil bupati dan dipamerkan ke warga desa. Bapak wakil bupati bilang, isu air bersih masih dalam proses. Setidaknya beliau tahu adanya isu tersebut,” pungkas Marlina.

Berbagi Keterampilan Menjahit Bersama Yayasan Satu Karsa Karya di Kupang, NTT

“Dulu saya tidak bisa jahit yang rapih, tidak tahu apa itu pola. Sejak ikut program YSKK (Yayasan Satu Karsa Karya) saya lebih punya ilmunya,” ujar Yudith, salah satu anggota kelompok penjahit binaan YSKK yang berada di Desa Oesao, Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Yudith bertekad untuk membagi ilmunya pada anak-anaknya.  “Anak-anak saya jadi tahu sekarang, agar nanti bisa bantu saya menjahit,” ujarnya menutup wawancara oleh Yuliana seorang anggota kelompok Tenun binaan YSKK dari Desa Teunbaun, Kupang, Nusa Tenggara Timur. Yuliana sendiri sedang mengikuti pelatihan Most Significant Change dari MAMPU.

Kisah Sri Mujiati Perjuangkan Penyandang Difabel Korban Kekerasan Seksual

Sri Mujiati (42), yang akrab disapa Sri, adalah seorang ibu rumah tangga dari empat anak. Pada awalnya, Sri menganggap tabu membicarakan seks dalam sebuah forum. Ia menganggap hal tersebut sebagai tindakan pelanggaran dan tidak sopan karena keluarganya mendidik untuk tidak membicarakan seks di mana pun.

Sri menjadi pengurus Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (RBM) sejak 2011 dan bergabung di CIQAL pada Juni 2014 yang kegiatannya didukung oleh MAMPU. Ia kerap mengikuti pelatihan untuk mendapatkan pemahaman yang baik terhadap isu kekerasan seksual. Semua wawasan, ilmu dan apa yang disampaikan narasumber saat penyuluhan, dicernanya. Hal ini menggugah nuraninya untuk lebih peduli terhadap berbagai kasus yang dihadapi oleh penduduk di sekitar lingkungannya.

Sehari-harinya, Sri lebih banyak mengurus keempat anaknya terutama mengantar ke sekolah. Ia mengantar anaknya yang berlainan sekolah dan waktu yang berbeda. Lebih kurang 30 Kilometer jarak tempuh dilalui dari rumahnya ke sekolah. Walau sibuk mengurus keempat anaknya, Ia masih menyempatkan diri aktif di RBM dan mendampingi beberapa korban kekerasan seksual pada perempuan penyandang difabel.

Sri merasa harus bergerak, sebagai sesama manusia. Apalagi dirinya juga mempunyai anak yang difabel. Ia memosisikan diri, jika sebagai korban tentu sangat berat. Sudah menyandang difabel, mengalami kekerasan seksual pula.

Salah satu korban kekerasan seksual yang didampinginya adalah “R” (29). Korban diperkosa oleh sepupunya sendiri sampai mempunyai satu anak laki-laki yang kini berusia 1,5 tahun dan anaknya mengalami kelumpuhan. “R” seorang difabel dengan Tuna Grahita dan Low Vision. Ia ditelantarkan pelaku sampai kini. “R” hanya tinggal bersama ibunya yang sudah lanjut usia.

“R” bercerita, bahwa dirinya dulu punya cita-cita untuk pandai membatik dan bekerja menjadi PRT.

“Saya ingin bekerja membatik atau bekerja di rumah-rumah orang, tapi sampai saat ini tak ada yang mau menerima saya,” katanya sambil tertunduk. 

Jika anak “R” kambuh kejang-kejangnya, “R” dan ibunya yang sudah sangat tua harus berjalan kaki ke puskesmas yang jaraknya sangat jauh dan melalui medan berliku dan curam. Namun semua dijalaninya dengan ikhlas.

Melihat kondisi “R”, Sri tergerak untuk mendampinginya. Setiap akan mengantar atau jemput anaknya ke sekolah, Sri selalu menyempatkan diri mampir ke rumah “R” untuk menengok.

“Tak ada satu pun yang peduli terhadap “R”, bahkan keluarga dan tetangganya. Saya ikhlas ingin membantu. Jika ada panggilan hati untuk datang ke rumahnya, seperti ikatan batin saja, pas ke sana pasti ada yang sakit atau sedang memerlukan bantuan,” kata Sri.

“Kader sudah lepas tangan, jadi saya memberanikan diri melaporkan hal ini ke Jamkesos dan diterima dengan baik, kemudian dirujuk ke LSM penanggulangan kekerasan keluarga. Sempat ada yang mau mengadopsi anak “R”, tetapi “R” berontak. Hal ini terjadi karena sebelumnya tidak ada pendekatan secara psikologis. Jadi “R” kaget ketika ada yang mau ambil anaknya,” tambah Sri.

Melihat perkembangan “R” dan anaknya yang kian memburuk, Sri berinisiatif meminta bantuan pemerintah untuk mengurus sementara anak “R” yang membutuhkan perawatan dan biaya yang intensif. Hasilnya, anak “R” akan dititipkan di Panti Asuhan untuk sementara.

Sri kerap mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan dari tetangga “R” dan juga keluarga pelaku yang tinggal tak jauh dari rumah “R”. Bahkan saat CIQAL dan sebuah lembaga bernama Sigap, datang ke rumah “R” untuk menindaklanjuti perlindungan hukum dan pendampingan yang maksimal, tetangga dan keluarga pelaku sempat mengancam akan mengusir “R” dari kampung tersebut. Akhirnya “R” menutup kasusnya, dengan alasan tak ingin terancam dan ingin hidup tenang.

Akhirnya, dengan segenap kekuatan diri, Sri memberanikan diri berinisiatif untuk berkumpul dengan kepala dusun dan warga setempat untuk membahas kesulitan “R” yang terpojok, sedangkan pelaku tak ada tanggung jawabnya. Hasil perundingan membuahkan hasil. Pelaku akhirnya mau bertanggung jawab atas biaya hidup “R” dan anaknya. Ia memberikan Rp.400.000,- per bulannya.

Perjuangan Sri tak sampai di sini. Ia tetap memberikan pendampingan kepada “R” dan terus berkomunikasi dengan CIQAL serta pejabat di desa tersebut.

Sri mengungkapkan, “Meskipun anak “R” sudah berada di Panti, tapi hukum tetap berjalan. Karena korban kekerasan seksual ini, bebannya seumur hidup. Dipastikan pula pelaku tak lalai dalam memberikan tanggung jawab nya.”

Keberanian Sri dalam memperjuangkan “R” ini merupakan hasil dari menimba ilmu dari pelatihan dan diskusi rutin yang diadakan CIQAL melalui program MAMPU. Dari memahami permasalahan kekerasan seksual pada perempuan difabel dan akhirnya peduli.

Penyempurnaan dari cerita Most Significant Change yang ditulis oleh Dwitanto dari Pajangan, Bantul di DIY

Bidan Desa Teladan Kampanyekan Tes IVA dan ASI Eksklusif di Bedingin, Jawa Timur Bersama Balai Sakinah ‘Aisyiyah

Sri Kaeni, seorang bidan di desa Bedingin, Jawa Timur yang serius mengampanyekan pentingnya melakukan tes Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) untuk deteksi dini kanker. Keseriusannya ini juga ia tuangkan dalam tulisan bertajuk “Desa Siaga Kanker Serviks” yang membawanya meraih predikat Bidan Desa Teladan yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Lamongan.

Ia menuturkan bahwa sebelum berlangsung program ‘Aisyiyah‐MAMPU, hanya sekitar 4 sampai 5 orang perempuan yang mau melakukan tes IVA di wilayahnya. Namun, setelah program tersebut hadir di Bedingin, jumlah peserta tes IVA meningkat hingga 122 orang dalam setahun. Dengan dukungan program ‘Aisyiyah-MAMPU, Ia terus memberikan sosialisasi dan mengajak masyarakat untuk melakukan deteksi dini kanker mulut rahim melalui tes IVA  maupun Pap Smear.

Tekadnya untuk membantu masyarakat desa khususnya masyarakat miskin, semakin kuat sejak ia aktif berperan dalam kegiatan ‘Aisyiyah‐MAMPU di Bedingin. Ia bahkan memiliki inisiatif untuk mengadakan pembiayaan tes IVA secara gratis bagi perempuan di desanya melalui dana desa siaga atau dana inisiatif pemerintah desa Bedingin.

Dana desa siaga ini merupakan hasil iuran dari setiap kepala keluarga sebesar Rp. 1.000,‐ per bulan bersamaan dengan penarikan rekening listrik. Dana ini dialokasikan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat secara mandiri. Di antaranya adalah untuk Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita, biaya pembinaan kader posyandu di wilayah bagian barat (Bedingin, Kedungdadi, Sidobogem, Pangkatrejo, dan Lebak Adi), dana konsumsi untuk Posyandu Lansia, subsidi IVA gratis untuk masyarakat miskin dan Tunjangan Hari Raya (THR) Kader Posyandu.

Dana desa siaga ini diadakan karena dana pembiayaan kegiatan posyandu tidak mencukupi untuk memenuhi semua kebutuhan masyarakat sekitar. Alokasi anggaran PMT dari pemerintah per anak atau balita hanya sebesar Rp. 2.500,-, dan hanya diberikan setahun 2 atau 3 kali saja. Sedangkan alokasi dari Anggaran Dana Desa (ADD) hanya Rp. 500.000,‐ per tahun.

Tak hanya aktif mengadakan berbagai macam program kesehatan untuk masyarakat di Bedingin, Sri juga ulet dan terampil dalam menangani pasien. Keuletannya ini mengundang perhatian dari Dinas Kesehatan. Ia pun terpilih sebagai salah satu bidan desa yang menerima bantuan mobil sehat dari Bupati Lamongan pada Mei 2014. Fasilitas mobil sehat tersebut diberikan sebagai apresiasi terhadap kinerja Sri dan pemerintah desa setempat yang terus berupaya meningkatkan mutu kesehatan masyarakat.

“Butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke Bedingin. Apalagi saat itu jalan dari Puskesmas Sugio ke Bedingin kondisinya rusak. Pengguna jalan harus memutar ke arah Sidomlangean. Saya harap mobil sehat ini dapat membantu masyarakat untuk menggunakan akses kesehatan di Bedingin,” ujarnya.

Saat ini, ia juga aktif sebagai pembina Kelompok Pendukung (KP) ASI BSA Khadijah, Desa Bedingin. Ia membagi program KP ASI dalam dua kelas, yakni program kelas hamil dan program kelas menyusui. Pada kelas hamil, ibu hamil diajak untuk melakukan gerakan senam ringan, cara merawat payudara, dan memelihara gizi ibu hamil. Sedangkan pada kelas menyusui, ibu menyusui diajak untuk selalu memberikan ASI eksklusif dan perawatan paska persalinan. Pada program tersebut, ia juga melibatkan keluarga pasien agar mereka ikut mendukung keberhasilan ASI eksklusif pada bayi. Ia selalu mengunjungi rumah pasien yang masih dalam pengawasannya. Dalam kunjungannya itu, ia mengajarkan cara menyusui yang benar dan melakukan pemeriksaan medis seperti mengukur tensi, memeriksa kondisi rahim dan sub-involusio (memastikan kembalinya fungsi organ rahim).

Pada saat mengampanyekan program ASI eksklusif, sebagian warga khususnya ibu yang aktif bekerja, kerap keberatan untuk mengikuti program tersebut. Waktu bekerja yang lama dan waktu istirahat yang minim cukup menyulitkan mereka untuk menyediakan ASI bagi bayi mereka.

Terkadang, ia pun harus beradu pendapat dengan keluarga pasien, contohnya adalah Marpuah, salah satu nenek dari bayi yang dirawat Sri.

“Pada awalnya saya khawatir, cucu saya menangis terus, badannya hangat karena sudah dua hari ibunya kesulitan memberikan ASI,” ungkap Marpuah.

Situasi seperti inilah yang seringkali dihadapi olehnya. Tetapi hal ini tidak menyurutkan niatnya untuk mengampanyekan ASI ekslusif. Ia memberikan pengertian pada Marpuah bahwa sang ibu harus tetap berusaha memberikan ASI ekslusif dan jangan menyerah agar bayinya memperoleh gizi yang cukup.

Demi menumbuhkan kesadaran masyarakat akan kesehatan reproduksi dan pentingnya ASI eksklusif, ia aktif menjalin komunikasi dengan pemerintah desa, Puskesmas dan Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah. Sebagai bentuk dukungan untuk menggalakkaan ASI ekslusif, Puskesmas dan Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah memberikan penghargaan dan bingkisan kepada anggota Balai Sakinah ‘Aisyiyah di Bedingin yang berhasil memberikan ASI ekslusif.

“Sementara ini, kami berikan bingkisan yang sederhana. Harapannya agar ibuibu di sini termotivasi untuk selalu memberikan hanya ASI kepada bayinya. Dengan begitu masyarakat akan semakin sadar bahwa ASI eksklusif sangat penting untuk memenuhi gizi bayi,” paparnya sambil menunjukkan modul‐modul bahan sosialisasi di KP ASI.

Berkat usaha Sri dan Balai Sakinah ‘Aisyiyah, mutu kesehatan masyarakat di wilayahnya semakin baik. Kini, warga desa Bedingin menyadari pentingnya kesehatan reproduksi dan pemeliharaan gizi bayi. Mereka juga dapat menikmati beberapa fasilitas kesehatan seperti Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk balita, Posyandu Lansia, dan IVA gratis untuk masyarakat miskin. Ke depan, ia berharap agar kegiatan  Balai Sakinah ‘Aisyiyah terus berjalan agar dapat membantu pemerintah desa dan bidan dalam meningkatkan kesehatan dan pengetahuan warga di Bedingin.

Ditulis oleh: Niswatin

LBH APIK Berkoordinasi dengan Polres Jakarta Utara untuk Tangani Kekerasan Perempuan dan Anak

Pada tanggal 18 Juli 2016, LBH APIK Jakarta bersama Paralegal LBH APIK Jakarta yang ada di wilayah Cilincing, Kalibaru, Pademangan, Muara Baru, Jakarta Utara melakuan Audiensi dengan Kepala Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Jakarta Utara. Pertemuan yang bertempat di kantor Polres Jakarta Utara ini, bertujuan untuk memperkenalkan Paralegal yang ada di Komunitas LBH APIK Jakarta dan melakukan koordinasi terkait penanganan kasus bagi Perempuan dan anak korban kekerasan di wilayah tersebut. 

Hadir dalam pertemuan tersebut yakni 6 orang Paralegal, 6 orang perwakilan LBH APIK Jakarta, dan 5 orang perwakilan Polres jakarta Utara. LBH APIK disambut dan diterima langsung oleh Ibu AKP. Krismastuti selaku Kepala Unit PPA beserta jajarannya. Dalam pertemuan tersebut, LBH APIK mendapatkan informasi bahwa saat ini penanganan perempuan dan anak korban kekerasan sudah bisa melalui Polsek, dimana di setiap polsek sudah ditempatkan 2 orang Polisi Wanita (Polwan) untuk menangani kasus tersebut, di bawah Reserse Kriminal (Reskrim) Polsek. 

Dalam pertemuan ini, para paralegal juga menyampaikan kendala penanganan kasus di lapangan dimana masih ada polisi di polsek yang menakut-nakuti korban. Atas laporan tersebut, Kepala Unit PPA akan menindaklanjuti. 

LBH APIK Jakarta merasa adanya sambutan baik dari Polres Jakarta Utara yang berkomitmen akan bekerjasama lebih jauh dengan Komunitas LBH APIK. Hal ini terlihat dari adanya komitmen bahwa dalam penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, akan melibatkan paralegal LBH APIK Jakarta, dan akan ada MOU dengan Polres Jakarta Utara serta pertemuan tindak lanjut untuk mendorong Sistem Peradilan Pidana Terpadu – Penanganan Kasus Kekerasan terhadap Perempuan (SPPT-PKKTP).

Dilaporkan oleh: Veni Oktarini Siregar (Divisi Perubahan Hukum – LBH APIK Jakarta)

Mama-mama Belu Aktif Berbagi Informasi Pelayanan Dasar di Kelompok Konstituen NTT

“Setiap bulan, mama-mama rutin bertemu dalam pertemuan kelompok konstituen,” kata Mama Lin, ketua kelompok konstituen di Belu, NTT. Inilah salah satu kelompok konstituen bentukan BaKTI melalui program MAMPU di tingkat desa yang bekerja bersama dengan pemerintah dan parlemen untuk memenuhi kebutuhan perempuan di 5 isu yang diusung program MAMPU.

Namun pertemuan bukan tanpa kendala. “Tidak semua perempuan bisa hadir karena sulitnya perjalanan dari lereng gunung,” ujar Mama Lin. “Tapi kami sebisa mungkin memberikan informasi tentang pelayanan dasar lewat telepon. Informasi kegiatan pertemuan pasti kita kirim lewat SMS,” tambahnya.

Lin bercerita tentang pelatihan dengan BP3TKI dan BNP2TKI agar warga yang mau menjadi buruh migran bisa mendapatkan informasi yang jelas tentang prosesnya. Selain itu, banyak keluhan mama-mama tentang pelayanan kesehatan di desa. Keluhan umumnya tentang kurangnya tenaga dan fasilitas kesehatan dan kurangnya informasi tentang BPJS Kesehatan. “Di pertemuan-pertemuan selanjutnya, semoga kami bisa lebih banyak tahu keluhan-keluhan di wilayah kami dan bisa mendampingi untuk menanganinya,” Mama Lin berkata.